Jumat, 01 Mei 2009

PACARAN BUKAN SEPERTI MEMBUKA BUKU

Sebagian orang menyatakan, ''pernikahan yang diawali dengan pacaran ibarat membeli buku yang dijadikan contoh (sample) dari jenis buku yang mahal. ''Pernyataan analogis (pembandingan) itu sudah lama disuarakan, tapi hingga kini masih sering didengang dengungkan oleh kelompok tertentu. Akibatnya, analogi tersebut menjadi mitos yang dipercayai kebenarannya, padahal menyesatkan.
Menyesatkan?????... YA !!!!!! Pernyataan mereka itu mengandung sesat-pikir (Fallacy), lantaran pembandingan yang ''pincang'' dan ''tidak relevan''. Penyebab pincangnya adalah lemahnya faktor yang menyebabkan adanya analogi. Sedangkan irrelevansinya terjadi karena yang diperbandingkan bukanlah sifat azasinya. (Lihat Mundiri, 60 Jenis Sesat Pikir - Semarang : Aneka Ilmu, 1999, hlm. 21 - 23.)

''Mereka berkata : ..."
Umumnya buku (yang mahal) seperti ini di toko buku dibungkus dengan plastik rapat disertai peringatan ''Membuka berarti membeli'' sehingga bagi para pembeli untuk bisa benar-benar mengenali buku tersebut, siapa tau tertarik hanya ada dua pilihan, yaitu:
pertama dengan membuka buku tersebut dan membacanya. Akibatnya buku tersebut sangat lecek dan makin lusuh bila semakin banyak orang yang membacanya. Akhirnya hampir semua pembeli menolak untuk menerimanya sebagai barang belian kecuali sangat memaksa dan terpaksa. Membeli buku yang seperti ini ibarat pernikahan yang diawali dengan pacaran.
Kedua, karena buku tersebut mahal terbungkus rapi dan membukanya adalah berarti membeli maka untuk mengetahui isinya sang pembeli bertanya pada petugas, atau melihat katalog komputer atau bisa saja sebelumnya bertanya dulu pada orang yang telah memiliki, tahu atau pernah membacanya. Sehingga dia mendapatkan buku yang benar-benar baru belum pernah disentuh siapapun termasuk pembelinya. Ini ibarat orang yang menikah tanpa melalui proses pacaran.

Untuk mengenali bahwa pembandingan tersebut tidak ''relevan'', sebaiknya kita amati perbedaan antara ''buku'' dan ''pacar''.
Buku adalah benda mati yang pasif dan tak berdaya ketika dibuka-buka sampai lecek dan lusuh. Pacar ialah makhluk hidup yang dianugerahi Tuhan dengan hati nurani dan akal sehat, sehingga mampu menjaga diri dari kekotoran. Allah SWT berfirman, ''Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya DIA akan memberi petunjuk kepada qalbunya. ''(QS At-Taghaabun [64] : 11) Jadi, dalam konteks ''kekotoran'', pembandingan antara ''buku'' dan ''pacar'' tidaklah relevan.

Kemudian untuk mengenali pincangnya pembandingan mereka itu, marilah kita amati perbedaan antara ''membuka sampel buku'' dan ''pacaran''.
Buku itu merupakan produk massal. Untuk mengenali isinya, kita dapat membuka dan membaca sampelnya. Terhadap produk yang bersifat massal seperti itu, metode penelitian survei (bersampel) merupakan metode yang efisien. Namun, pacar ialah makhluk tunggal yang bersifat unik, lain dari yang lain. Ia bukanlah sampel dari para lawan jenis. Terhadap produk unik yang bersifat tunggal seperti ini, metode penelitian yang efektif adalah ''studi kasus'', bukan survei. (Lihat, misalnya buku karya Prof. Dr. S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1992), terutama Bab I). Jadi dalam konteks penelitian, pincanglah pembandingan antara ''membuka sampel buku'' dan ''pacaran''.
Dengan demikian, analogi (pembandingan) antara ''membuka sampel buku'' dan ''pacaran'' yang mereka kemukakan itu keliru alias sesat-pikir (fallacy).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar